Mengapa Ada Begitu Banyak Kedai Kopi di Tanjungpinang?

Oleh: Petrus M. Sitohang

Saya baru menyadari salah satu ciri khas kota Tanjungpinang, termasuk kota-kota lain yang ada di Kepulauan Riau ini ketika saya berkunjung ke kota Ambon beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya menginap di hotel Amans. Amans adalah hotel terbaik yang ada di Ambon saat itu… Saat saya berkunjung ke Ambon, sisa-sisa kerusuhan Ambon masih sangat kuat dalam ingatan banyak orang, tidak terkecuali saya. Jadi sewaktu memasuki hotel Amans, ada sedikit perasaan campur aduk membaca kata amans. “Mudah-mudahanlah hotel ini aman-aman saja selama saya menginap di sini”, kata saya dalam hati sewaktu check in di hotel Amans. Belakangan saya diberitahu, kalau kata Amans oleh pemiliknya diambil dari semboyan Ambon manise. Halahhhh…..

Syukurlah, selama 5 hari saya tinggal di Ambon waktu itu dan menginap di hotel Amans, suasana kota Ambon dan sekitarnya memang aman-aman saja. Bahkan saya memiliki kesan yang unik sewaktu saya berada di Ambon. Dalam setiap acara yang saya ikuti, pejabat atau pemuka masyarakat yang diminta memberi sambutan, entah apapun agamanya dan jabatannya akan memulai dan mengakhiri dengan dua salam sekaligus yaitu: “Assalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh” salam damai yang biasa diucapkan umat muslim dan “Shalom” salam damai yang biasa diucapkan umat nasrani. Semua pejabat dan pemuka masyarakat Ambon, mengucapkan salam-salam itu dengan sangat lancar dan wajar, menandakan sepertinya itu sudah merupakan hal yang sangat biasa di Ambon. Menjadi keanehan di dalam hati saya, kalau orang Ambon fasih mengucapkan salam dalam berbagai bahasa, mengapa mereka bisa dengan mudah disulut untuk baku pukul dan bahkan baku bunuh ya?

Saat berada di Ambon saya ingin mencoba nongkrong di salah satu kedai kopi yang ada di kota itu.  Saat itu saya berpikir hanya perlu berjalan kaki beberapa langkah untuk menemukan satu kedai kopi sebagaimana biasanya kita di Tanjungpinang atau di Batam atau Tanjungbalai Karimun atau di kota-kota lainnya di Kepulauan Riau. Tetapi ternyata tidak demikian di Ambon. Satelah berjalan-jalan selama hampir 1 jam saya tidak menemukan satu kedai kopipun. Sampai saya berhenti di salah satu rumah makan yang terletak dekat dengan kantor Gubernur Maluku. Pemilik restoran heran ketika saya hanya memesan segelah teh O. Saya menjadi heran kenapa orang itu heran saya hanya memesan teh O, karena saya memang hanya mencari teh O saat itu.

Pengalaman ini menimbulkan perasaan aneh. Di Tanjungpinang bisa dikatakan hampir tiap 20 meter di pinggir jalan kita akan mudah menemukan kedai kopi dan merasakan nikmatnya menghabiskan waktu di sana. Bahkan di beberapa tempat kedai-kedai kopi bisa berhadap-dahapan atau sebelah menyebelah. Kedai kopi di Tanjungpinang merupakan tempat favorit bagi warga Kepri untuk menghabiskan waktu di saat-saat sengang.

Pengalaman kunjungan ke Ambon itu menyisakan pertanyaan dalam hati saya, “Kenapa begitu banyak kedai kopi di Tanjungpinang dan kota-kota lainnya di Kepri?” Lalu kalau dihubungkan dengan Ambon yang sampai kini masih sering  kita baca tiba-tiba bergolak, dan sebaliknya di Tanjungpinang sejak dulu hingga sekarang tidak pernah mengalami persoalan etnis atau agama, adakah relasi langsung atau tidak langsung jumlah kedai kopi dengan keamanan dan kerukunan masyarakat yang berbeda etnis di suatu daerah?

Entahlah. Sampai sekarang saya belum tahu jawabannya….Yang saya tau pasti, tidak ada hari saya tidak nongkrong di kedai kopi favorit saya di sebuah sudut blok pertokoan di Bintan Center bt 9 kecuali saat saya di luar kota atau sakit atau hari minggu. Dengan uang Rp. 20.000 saya sudah bisa mencicipi Teh O, roti prata kosong atau lontong sayur dan membayari beberapa teman saya yang sering mengaku tidak berduit untuk membayar kopinya tetapi rajin mengunjungi kedai kopi.

Advertisements

6 thoughts on “Mengapa Ada Begitu Banyak Kedai Kopi di Tanjungpinang?

  1. Idris Pasaribu

    Mungkin di setiap kota yang ditepi laut membutuhkan kedai kopi, atau angin laut membuat orang suka ngobrol di kedai kopi. Sibolga kotamadya yang kecil saja, memiliki kedai kopi sampai ratusan jumlahnya. Dan orang yang suka nongkrong di kedai kopi adalah orang yang sangat pintar. Mereka bisa membahas, mulai dari Togel sa,pai perang teluk, bahkan apa bakal keputusan Pengadilan terhadap Nazaruddin, sudah bisa ditebak sejak dini. Pertengkaran kecil yang selalu diselingi derai tawa, membuat keakraban terjadi.

    Reply
    1. Petrus Sitohang

      Bah…begitu ya tulang Idris….Sepertinya Sibolga dan Tanjungpinang bisa menjadi sister city…Kalau pak Maskur mau bisa ajak bapak-bapak dan ibu dewan kota Tanjungpinang studi banding ke kota Sibolga….

      Tks tulang Idris sdh mampir ke kedai kopi Bintan ini…Horas.

      Reply
  2. ramsel

    kedai kopi.itulah salah satu keunikan dan pesona tj.pinang..dan kepri.tdk perlu kita bertanya kenapa begitu banyak..alam geografis menciptakan budaya baru..yaitu minum kopi.pemimpin mendatang hrs melihat budaya ini menjadi potensi wisata…

    Reply
  3. milanoleo

    Halo,,saya mau nawarin ni buat pecinta kopi di tanjung pinang,, kualitas kopinya bagus karena langsung dari petani kopi,, jenis kopinya arabika, untuk kopi luwak pun ada. kalau ada yg berminat silahkan menghubungi saya di milanoleo@yahoo.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s