Tok Long, Pak Long, Mak Long Tolong Dong!!!

Oleh: Yar Rachman

Andaikan ada mesin pengundur waktu seperti “time mechine” dan “time tunnel”, atau apalah namanya, saya adalah orang pertama yang akan mempergunakan jasa tersebut. Pengen tahu kenapa? Alasannya simple yakni ingin kembali ke masa kecil untuk menikmati makanan autentik dari kampung saya. 

Yang jelas keinginan ini bukan karena home sick dan terlalu sering nonton Anthony Bordain, Andrew Zimmern ataupun Bondan “Mak Nyus” Winarno, namun murni merupakan obsesi serta resolusi pribadi tanpa embel-embel. Walaupun bisa memasak dikit-dikit, namun saya bukanlah ahli kuliner atau gastronomi, jadi saya akan deskripsikan santapan yang ingin saya nikmati tersebut dengan apadanya. Jika ada salah sono sini mohon dimaafkanlah.

Cincalok: pembuatannya melalui fermentasi dengan bahan rebon (udang kecil) dan garam. Kedua bahan dasar tersebut setelah dicampur lalu dimasukkan kedalam botol (biasanya botol bekas kecap dengan warna bening transparan). Saya kurang tahu persis lama proses fermentasi, namun jika dilihat secara kasat mata udang2 kecil tersebut akan berubah warna menjadi pink jika siap untuk dinikmati. Karena dibuat secara tradisional, jika melewati masa kedaluarsa, kita akan menemukan belatung2 kecil di dalamnya. Ada dua cara penyajian cincalok ; secara mentah (dicampur dengan cabe , bawang dan jeruk kecil) sedangkan cara memasaknya juga dengan bahan yang sama ditambah dengan bumbu lainnya. Santapan yang cenderung berfungsi sebagai sambal ini akan lebih nikmat jika ditemani dengan nasi panas, ikan asin serta lalapan. Kalo tak salah ingat, saya pernah menemukannya di Singapura dan Malaysia, tapi tidak sempat membelinya karena takut diperiksa Bea dan Cukai….maklum baunya semeriwing dan bentuknya juga seperti bom molotov…he..he..he.

Pekasam: proses pembuatannya lebih kurang sama dengan cincalok, namun yang beda hanya bahan dasarnya. Pekasam yang saya maksud adalah pekasam  yang dibuat dari bahan dasar “Kime” (sejenis kerang2an) dan bukan pekasam ikan yang biasanya kita temukan di negara serumpun yang sudah diproses dengan teknologi lebih maju dan di jamin lebih higenis. Cara penyajian pekasam juga sama persis dengan cincalok baik mentah atau dimasak. Walau baunya menyengat tapi rasanya ditanggung nikmat.

Tempoyak: jenis makan ini tidak saja ada di kampung saya, namun juga dapat ditemukan di Pontianak, Palembang, Lampung, Singapura, Malaysia dan Thailand. Bahan dasarnya adalah durian yang sudah kurang segar dan cara pembuatannya kalo tidak salah juga melewati proses permentasi. Santapan gurih ini juga dapat diramu sebagai sambal dengan menambahkan cabe dan bumbu2 lainnya.

Lempeng sagu: jenis makan ini bentuknya seperti panekuk tau telur dadar dan dibuat dari bahan dasar tepung sagu dicampur dengan ikan teri dan rempah2 lainnya. Setelah semua bahan dicampur jadi satu, terus dibentuk kayak daging burger dan dipanaskan diatas wajan. Rasanya gurih dan sedikit pedas. Memang orang kampung saya jadi lebih kreatif ketika berhadapan dengan bahan makanan yang serba terbatas saat itu.

Kepurun: Saya berani bertaruh bahwa jenis makanan ini bukan asli kampung saya, karena kita dapat menemukannya di Ternate, Ambon maupun Papua. Namanya sama persis, tapi karena logat masyarakat Indonesia Timur, maka sebutannya menjadi “Kepurung” Bahan dasarnya adalah tepung sagu yang dimasak sehingga berbentuk seperti lem. Fungsinya memang sebagai makanan pengganti nasi dan dapat dinikmati dengan gulai ikan asam pedas. 

Poyot: Soal nama makan ini saya kurang yakin benar, tapi seingat saya kedengarannya seperti itu. Poyot ini merupakan turunan dari kombinasi antara lempeng sagu dan kepurun. Bahan dasar tetap sagu, bumbu, sayuran dan ikan teri. Tekstur poyot lebih encer dibanding kepurun dan enak disantap ketika lagi hangat..

Sembilang Asam Pedas: sembilang merupakan kembaranya ikan lele, tapi hidupnya di laut. Beda kedua jenis ikan ini hanya pada warna (lebih hitam) dan patilnya yang cukup berracun. Ikan jenis ini masih dapat kita temukan di daerah Pidie dengan ukuran cukup besar dan nama yang sama. 

Selangat Singgang: selangat adalah sejenis ikan laut yang saya kurang tahu persis apakah  masih eksis atau tidak. Singgang adalah cara memasak yang kira2 sama dengan ikan steam kalo kita pesan di “Kelong” Lagoi. Bau serai dan jahe membuat masakan ini enak dinikmati pada waktu makan malam.

Tamban Bakar/Asap: jenis ikan musiman ini masih bisa kita temukan di Nias dan Simeulue. Cara mengolahnya juga cukup simple cuma di bakar atau di asapin dan cukup dimakan dengan sambal kecap….nikmat Saya sadar dan tidak perlu terlalu berharap banyak, karena sebagaian dari makanan yang saya idamkan mungkin saja sudah punah ataupun tergerus oleh makanan cepat saji. Tapi saya yakin 99.9% bahwa ada Tok Long, Pak Long dan Mak Long yang dapat membantu saya mewujudkan angan2 ini.

Nias, 4 Maret 2008 

Advertisements

6 thoughts on “Tok Long, Pak Long, Mak Long Tolong Dong!!!

  1. yar

    Kalo Mie lendir, mah, bisa di dapat di Changi Airport,jalan mesjid, Kesawan dan kampung keling Medan. he….he…
    Kalo Kepurun atau Papeda yg agal sulit karena ongkosnya mahalsih

    Reply
  2. Yar

    Jebat Bentan,
    Terus terang saye sudah lupe, walau mungkin pernah mencobe. Tapi kalau Jabat atau warge Tembelan yg mau nyuguh, saye tidak keberatan stop over di Temasek (changi) terus nyeberang ke Bintan? Batam?, kebetulan sudah bosan makan Tajin dan kebab Istanbul…….he…he…maunye makan gratis aje…..

    Mungkin tanpe kite semue sadari, banyak jenis kue2 dan makanan kite yang sudah tidak ade lagi yg bise membuat atau masaknye. Sebab itu kalau saye ingin mengingat kampong halaman, paling2 hanye bise nyobe “Sop ikan Batam” . Tapi kate teman2 di Jakarta, di Kelape Gading ade yang jual Gong2 dan otak2 dari Bintan?

    Reply
  3. Anjas boedak daek

    Pak yar,lakse tak ade ni?Kan mkanan orang melayu jugak tu?Kalau di daik maseh lestari tu pak yar!Cieee..Lestari..Konon??Maacamm puloooott..!!Huahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s