Jakarta Underwear

 yar-rachman-in-action1.jpg 

Oleh: Yar Rahman  

Ketika mendengarkan bisik-bisik salah seorang teman yang kurang percaya terhadap fungsi keperkasaan naluri kelaki-lakiannya untuk menyambangi ke Mak Erot, saya hanya masem2 sambil dalam hati melontarkan kalimat canda “hare gene? Cepek deh”. Yang lucunya, teman saya ini kan seorang gay dan menurut saya kondisi penyimpangan seks dirinya tidak membutuhkan bantuan sang legenda karena target point (bull eye – istilah olah raga Dart) tidak akan pernah mengalami “overhaul” alias turun mesin (baca: melahirkan)Bagi kita yang tidak mengerti sensasi yang dialami teman-teman gay dengan fantasi seks mereka, mungkin tidak akan paham dengan niat teman saya ini untuk menemui sang spesilais extra large. Kalo saja teman saya ini sedikit jeli, celingak-celinguk, kiri  kanan, selama perjalanan pulang kerumah, pasti dia  akan menemukan iklan tentang obat keperkasaan/kuat serta pernak pernik alat fantasi seks yang di jajakan di toko sepanjang jalan  Jakarta  baik dari arah barat sampai ke timur. Toko tersebut menjajakan produk yang tidak saja untuk kebutuhan kaum hetroseksual, tapi juga untuk kelompok homoseksual. Memang pada dasarnya toko2 ini menjajakan produk keperkasaan sejenis viagra, cialist, spanish fly bahkan berbagai produk made in local lainnya. Tidak hanya pil-pil mujarab itu yang dijajakan tapi peralatan asesori untuk selera “Jepun” seperti vibrator, vagina imitasi dan boneka seks juga tersedia.

Bagi pengidap “Bludrek” jangan coba-coba menggunakan pil biru atau sejenisnya jika tidak mau “Kaput” diatas perut. Pil Biru mujarab yang aslinya dicipta untuk melancarkan peredaran darah bagi penderita cardiovascular, malah secara tidak sengaja menimbulkan efek sampingan yang menggembirakan bagi rekan2 penderita penyakit “layu sebelum berkembang”. It is a Blessing in disguise!. Kabar terahir, petinggi militer di AU Rusia menganjurkan semua pilot fighting jet mengkonsumsi Viagra sebelum tinggal landas sebagai booster stamina.

Yang masih menjadi misteri dan sampai sekarang belum terpecahkan serta perlu analisa lebih dalam adalah para pengusaha beraliran “esek-esek alternatif” ini menggunakan awalan “A” bagi nama setiap toko mereka i.e. Aseng, Afuy, Aming, etc

Saya tidak berniat vulgar atau menjadi salesmen dari produk diatas, tapi hanya sekedar berbagi cerita tentang berbagai bentuk kegiatan terselubung yang ada di kota cosmopolitan Jakarta. Target group dari sharing ini adalah pembaca yang sudah akil balig alias tidak membutuhkan parental control. Walaupun semua kita tahu, bahwa di era cyber world tanpa batas ini banyak situs yang menyajikan kegiatan yang lebih seru lagi dan dapat diakses dengan mudah oleh bocah-bocah cilik dengan bantuan mesin pengunduh google atau semacamnya. Bagi yang sudah tahu tidak disarankan untuk mencobanya karena semua ini termasuk kategori perbuatan maksiat.

“live show” merupakan gabungan kata yang menurut banyak orang secara otomatis akan berkonotasi negatif. Atraksi porno semacam ini biasanya dapat kita temukan di berbagai  tempat di luar negeri seperti Phat Phong, 42nd street Manhattan dsb. Tak terbayangkan oleh banyak orang atraksi sejenis sudah dapat dinikmati di Jakarta, walau mereka belum secanggih rekan2 di luar negeri yang kelaminnya mampu membuka tutup botol bir, bersiul, memainkan trompet, menembakkan pisang dan mengeluarkan untaian silet dsb. Jalan Hayam Wuruk dan sekitarnya merupakan kawasan yang tak asing lagi untuk urusan semacam ini. Tapi tempat yang paling aman untuk menikmati atraksi sejenis adalah sebuah tempat berinisial “B” terletak dikawasan SCBD Kuningan. Di tempat ini kita di jamin aman dari grebekan karena berada di kawasan milik orang kuat yang “katanya” punya kontrol terhadap aparat di Negara ini.

Tapi kalau kantong “cekak” jangan coba-coba untuk menikmati tontonan yang merupakan gabungan antara unsur pornograpi dan seni ini (tergantung dari perspektif  mana kita menyikapinya). Sebagai pembanding, kami berempat menikmati tontonan ini dengan menggunakan kaca mata seni sambil berkaraoke saja, harus mengeluarkan fulus 20 jeti.

Tapi yang punya uang pas-pasan dan ingin menikmati secara pribadi di kamar hotel, dapat menghubungi sebuah EO berinisial “R” yang bermarkas di Kemang dengan tarif  per jam/ per orang sbb: Sexy Dancer: 500 ribu, Topless Dancer: 700 ribu, Belly Dancer 550 ribu, Striptease Dancer: 1 jt dan Body Painting 1,2 jt. Ps.. Semua atraksi ini dilakukan oleh model pemula (tarif diatas tanpa acara hole in one)

Bagi para pelanggar prinsip “Molimo” dapat juga menikmati berbagai sajian pemenuh syahwat dari dari PSK internasional di Hotel “A” disamping jalan toll arah slipi menuju Ancol dengan tarif berkisar 1 sampai 2 jeti per short term.

Atraksi menarik lainnya adalah menikmati “shusi” diatas tubuh tanpa busana, rasanya gurih dan agak asem2 dikit mungkin kecampur keringat kali..he…he…Kalo yang ini berlokasi sekitar Kebayoran dan tidak terlalu mahal untuk gaji orang Lagoi pasti mampu lah.

Sebenarnya banyak lagi atraksi yang ingin saya sampaikan tapi semuanya merupakan hal-hal yang penuh dengan kemaksiatan. Jadi tulisan Jakarta Underwear ini saya tutup dengan pesan “ Harap tidak mencoba-coba atraksi diatas karena mengandung unsur kemaksiatan dan dapat menyebabkan KUA kewalahan menerima permohonan cerai dari para istri” Bagi teman2 yang beraliran mainstream “Kulo nyuwun pangapunten banget….”  

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta Underwear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s