Lagu “Cinta Melulu” Melecehkan Orang Melayu

yar-rachman-in-action2.jpg

Oleh: Yar Rachman

Mendengar nama group band Efek Rumah Kaca (ERK), awalnya membuat saya kagum karena kereatifitas mereka mengusung nama yang sekaligus menyampaikan pesan edukatif tentang salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. 

“Cinta Melulu” merupakan sebuah kritik social terhadap kondisi lagu hasil karya anak negeri yang gandrung dengan persoalan cinta, patah hati, perselingkuh, dan cengeng. Kritikan mereka juga menyentil produser label mapan yang cendrung hanya memenuhi keinginan pasar agar meraup lebih banyak keuntungan ketimbang kualitas. Memang tidak semua band gress, baik dari genre pop, hardcore, maupun alternatif yang rela didikte oleh produsen label mapan. Band yang masuk dalam kategori idealis, lebih senang memilih indie label untuk menyalurkan kegiatan dan bakat musikalitas mereka.

Produser label mapan memang tidak dapat disalahkankan seratus persen dengan kondisi ini, karena industri musik bukanlan urusan charity atau kegiatan philanthropy, jadi jika ingin untung, ya tetap harus taat pada hukum supply dan demand. 

Setakat itu, kritik yang disampaikan ERK lewat lagu tersebut saya nilai positif dan sah2 saja. Namun ketika lirik lagu menggunakan kata “Melayu” atas konklusi ERK tentang penyebab terciptanya konsidi yang disebutkan diatas, maka sebagai orang Melayu saya merasa gerah, marah dan kecewa. Menganalogikan sifat dan sikap orang Melayu dengan konotasi lemah dan berselera rendah adalah penilaian dangkal yang keliru dan menyesatkan serta perlu pelurusan.  

Kita semua tahu bahwa mayoritas orang Melayu sejak zaman dahulu kala tinggal dan menetap di propinsi Riau dan Kepulauan Riau yang kaya dengan sumberdaya alamnya. Memang, dimasa transisi demokrasi yang sedang kita lalui saat ini, boleh dikatakan tidak pernah terdengar orang Melayu – yang benar-benar mewakili masyarakat Melayu- menuntut referendum apalagi kemerdekaan, walau dalam kenyataan sehari-hari masih banyak penduduknya hidup dalam kesederhanaan dan keprihatinan. Namun sikap “nrimo” tersebut tidak dapat dikatagorikan sebagai sikap lemah. Orang Melayu adalah rumpun bangsa yang mempunyai norma, nilai, adat istiadat, martabat dan budaya yang tinggi serta syarat dengan heroisme dan keperkasaan.  

ERK mungkin saja tidak mengenal Hang Tuah atau Raja Haji Fisabililah, tapi setidaknya pasti pernah mendengar karya fenomenal budayawan Melayu sekelas Raja Ali Haji dan sang presiden penyair, Sutardji Calzoum Bachri. 

Saya tidak tahu persis motivasi ERK menggunakan kata Melayu pada lirik lagu tersebut. Mungkin saja itu merupakan sebuah kesilapan yang tidak disengaja karena kehilangan krestifitas memilih kata berakhiran “u” agar lirik lagu terdengar lebih harmonis. Atau kritikan tersebut merupakan bentuk pelampiasan balas dendam terhadap tetangga bangsa serumpun yang gencar mematenkan karya2 anak bangsa. Wallahualam Bisawab. 

Yang cukup membingungkan saya adalah lagu “Cinta Melulu” tersebut dibawakan ERK dengan irama “mellow” dan ini menunjukkan sikap inkonsistensi mereka. Sebab itu saya tak yakin popularitas dan eksistensi ERK akan dapat bertahan lama jika “khekeh” terhadap prinsipnya, kecuali jika mereka menjilat ludah sendiri dan turut larut dalam kondisi musik yang mereka kritik Saya harap ERK dapat memetik pelajaran dan melakukan entrospeksi diri agar dimasa mendatang dapat lebih berhati-hati didalam menggunakan kata dalam lirik lagu-lagunya.  Namun tidak ada salahnya jika ERK meminta maaf atau setidaknya melakukan klarifikasi kepada orang Melayu yang punya sifat pemaaf. Seperti kalimat orang bijak “it’s better late than never”. 

Chennai, India

Yar Rachman*)  adalah anak asli Tanjungpinang yang saat ini bekerja pada sebuah LSM Internasional berkantor di Jakarta

Advertisements

14 thoughts on “Lagu “Cinta Melulu” Melecehkan Orang Melayu

  1. kedaikopibintan Post author

    Pak Yar,

    Kita semua apakah suku Jawa, Batak, Padang, Bugis, Palembang itu sebenarnya adalah bagian dari keluarga besar ras Melayu.

    Jadi kalau ada seorang Jawa atau Batak yang karena sesuatu hal atau dalam konteks apa saja berucap “dasar Melayu”, itu biasanya dimaksudkan untuk memperjelas perbedaan dengan suku Tionghoa atau India, Arab, Eropah dan lain-lain. Di sini orang tersebut sebenarnya bicara tentang dirinya sendiri, jadi tidak ada unsur pelecehan terhadap suku Melayu.

    Saya bahkan perhatikan, bahwa di Riau dan Kepulauan Riau sendiri hampir semua suku-suku dengan sukarela melebur menjadi Melayu atau paling tidak mengasosiasikan dirinya dengan Melayu. Hal ini tampak saat acara-acara pernikahan. Pakaian pengantin Melayu biasanya yang menjadi kostum utama. Pantunnya juga yang memeriahkan suasana.

    Fenomena ini merupakan indikator bahwa identitas Melayu memiliki marwah. Dan lagu ERK ini tidak akan mampu mengurangi itu sedikitpun.

    Jadi tak perlulah gusar pak. Mungkin lebih baik ERK itu diajak manggung ke Tanjungpinang sekalian….

    Reply
  2. bambang suhartono

    emangnya kita ini duluny sebelum dilahirkan pengin jadi orang melayu, jawa, batak atau suku apa ajalah….kalau saya dulu dilahirkan di australia pasti udah jadi bangsanya craig, kalo di australia bagian amborigin yeah pasti jadi orang sono..lah gitu aja kok repot. mau suku apa saja sing penting jadi manusia yang bisa membawa misi Tuhannya ya nggak….

    Reply
  3. Putra Dev

    Bapak Ibu, kalau menurut saya lagu tersebut bukan menghina bangsa melayu. Saya juga yakin ERK juga mengakui dirinya sebagai Ras Melayu. Lagu itu lebih menekankan kepada sindiran keras kepada masyarakat agar manusia Indonesia lebih dapat membuka mata, membuka hati dan menerima bahwa negara ini begitu kaya dengan musisi yang tidak kalah hebatnya dengan negara2 barat.
    Tapi memang sejak tahun 2002, musik indonesia menjadi sangat monoton. Coba bapak Ibu tengok ke tahun 80′ – 90’an. Band2 seperti Voodoo, Protonema, Kahitna, Java Jive, Slank, Dewa 19, GIGI dan lainnya. Mereka memiliki musikalitas yang luar biasa dan warna musiknya bermacam2. Tapi selepas tahun itu, nampaknya dari pihak industri musik besar seperti tidak mau mengambil resiko untuk membesarkan karya anak bangsa karena mereka menilai berdasarkan minat pasar. Padahal mereka punya kekuatan untuk mengendalikan pasar, tapi mereka tidak mau.
    Nah, menurut saya, ERK memberikan suatu kontribusi sosial yang dapat menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa sebenarnya Indonesia kaya dengan musisi2 penerus yang tidak kalah hebatnya.

    Reply
  4. NINO

    anda tdk akan tau cra brpkir seniman…lagu trsebut tdk mnyebut kan org melayu lemah!
    ini hnya sbuah pngungkapan…apakah krn kita org melayu maka kita hrus mndengarkan lagu yg mendayu???
    apa krn kita org melayu jd hanya boleh membuat lagu yg mendayu????
    sya sbagai sniman mrasa miris dng kreatifitas ank musisi muda jman skrg….mreka membuat lagu supaya trkenal,pnya uang,hura2 atas ktenaran!
    mreka membuat lirik krn tuntutan label…tanpa mreka sadari,itu yg membunuh cara brpikir mreka tentang kejujuran dlm berkarya…!
    jd jng krn anda org melayu,anda memprotes kata “melayu” pada lirik trsbut…
    sya sndiri jg org melayu!!!
    slama ini lagu melayu slalu mndayu kan???
    apa prnh anda mndengar lagu mlayu itu mnggunakan distorsi gitar dan penuh kemarahan????

    klo anda sudah mnjadi seorang sniman,bru anda akan mengerti cra brpkir kami!

    _KoMUnitAs INdiE TaNGEraNG_

    Reply
  5. Par Bintan

    @ Nino

    Yang saya kenal sih Pak Yar Rachman itu bakat dan pengetahuan musiknya cukup dalam. Waktu muda dia punya band. Bakat musiknya itu sekarang mengalir ke anak-anaknya yang juga bermain musik.

    Reply
  6. yar

    Nino,
    Terima kasih atas responnya dan saya senang dengan anak2 muda Melayu yang pintar seperti anda. Namun saya hanya ingin mengingatkan, bahwa di era demokrasi ini semua orang bebas menyuarakan pendapatnya, termasuk anda untuk menyampaikan kritik atas apa yang menjadi unek2 saya.
    Wah..kalo untuk pengetahuan tentang cara berpikir seniman, kayaknya saya harus belajar dari anda yang mungkin pengetahuannya luas tentang seni. Kebetulan saya tinggal di Tangerang, jadi kalo anda ingin berdiskusi dengan saya tentang apapun termasuk musik atau ber jam session sekalipun, saya akan sangat senang hati. Hp saya 081808010297 anda dapat menghubungi saya. Saya baru kembali ke Indonesia awal May.
    Wass,
    Yar

    Reply
  7. Manda

    @NINO

    Biasanya, org yg baru tau sedikit, belagu….

    ya seperti Nino ini…

    mungkin, lho….

    Dimaklumin aja pak Yar…

    Reply
  8. Yar

    Ada yang lucu dan dunia terasa selebar daun kelor. Pasalnya, secara tidak sengaja saya bertemu dan berkenalan dengan sang vokalis dalam sebuah acara. Eeeeeh..taunya sang vokalis adalah suami dari salah satu staff kami. Namun, untuk menjaga etika dan sopan santun, saya urungkan niat untuk sekedar bertanya tentang lagu ERK tesebut..he..he…he…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s